Film “Lift” Terpilih di Festival Film Horor Edisi Ke-4, Diskusi Tegaskan Musik Adalah “Akhir Cerita” dalam Sinema Horor

REAKSIMEDIA.COM | Jakarta – Festival Film Horor (FFH) Edisi ke-4 kembali digelar dengan konsep yang tidak sekadar menyeleksi karya film horor terbaik, tetapi juga membuka ruang diskusi mendalam tentang elemen-elemen penting dalam produksi film. Pada gelaran yang berlangsung di Pictum Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (13/3/2026)

FFH kembali mempertemukan sineas dan praktisi film dalam sebuah forum kreatif yang memperkaya perspektif dunia perfilman.

Mengangkat tema “Musik Horor yang Membumi: Membangun Vibes Horor Tanpa Kehadiran Setan,” diskusi menghadirkan sejumlah praktisi industri film, di antaranya produser eksekutif Lok S. Iman, sutradara Randy Chana, music director Bemby Gusti, dengan Alyne Ma’arif sebagai moderator.

Diskusi tersebut menyoroti pentingnya musik sebagai elemen sinematik yang mampu membangun emosi, atmosfer, hingga ketegangan dalam film horor. Para pembicara sepakat bahwa musik memiliki peran vital dalam menghidupkan cerita, bahkan sejak era film bisu ketika sinema masih bergantung pada komposisi musik untuk memperkuat ekspresi visual.

Meski demikian, para narasumber juga menekankan perbedaan mendasar antara musik dan sound dalam film. Tidak semua bunyi yang terdengar dalam sebuah adegan dapat dikategorikan sebagai musik, karena sebagian merupakan elemen suara yang sengaja dirancang untuk membangun efek psikologis tertentu bagi penonton.

Produser eksekutif Lok S. Iman mengungkapkan bahwa dirinya lebih memilih memberikan kebebasan kreatif kepada para pembuat film dalam menentukan komposisi musik maupun sound yang digunakan.

“Banyak produser ikut menentukan musik atau sound dalam film yang mereka biayai. Tapi saya lebih percaya pada kreator film. Mereka yang lebih paham kebutuhan artistiknya,” ujarnya.

Sementara itu, music director Bemby Gusti menjelaskan bahwa proses penciptaan musik film sering kali melalui diskusi panjang, bahkan perdebatan kreatif antara music director dan sutradara.

Baca juga:  TNI AL dan AL Singapura Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Maritim dan Jaga Stabilitas Kawasan

Menurutnya, meski seorang music director memiliki gagasan musikal tersendiri, keputusan akhir tetap harus selaras dengan visi sutradara sebagai pemimpin artistik dalam produksi film.

“Film adalah karya seni yang kompleks. Banyak unsur seni yang bertemu di dalamnya, termasuk musik,” jelas Bemby.

Pandangan serupa disampaikan sutradara Randy Chana yang menilai pemilihan musik harus benar-benar menyesuaikan tema dan atmosfer film yang sedang digarap.

“Musik bisa membangun ketegangan penonton. Karena itu penting adanya diskusi antara sutradara dan music director agar film memiliki ritme emosional yang tepat,” kata Randy.

Diskusi yang berlangsung hangat tersebut menghasilkan satu kesimpulan penting: musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah film. Tanpa komposisi musik yang tepat, sebuah film seakan kehilangan penutup emosionalnya—seolah cerita tidak pernah benar-benar berakhir.

Pada kesempatan yang sama, FFH juga mengumumkan film pilihan bulan Maret, yaitu “Lift.” Film ini berhasil meraih sejumlah penghargaan dalam festival edisi ke-4.

Aktor Alfie Afandi terpilih sebagai pemain pria terbaik, Ismi Melinda sebagai pemain wanita terbaik, Risky Dwipanca sebagai Director of Photography (DoP) terbaik, sementara Randy Chana dinobatkan sebagai sutradara terpilih.

Kesuksesan FFH Edisi ke-4 kembali menegaskan peran festival ini bukan hanya sebagai ruang apresiasi karya horor, tetapi juga sebagai laboratorium gagasan bagi para sineas Indonesia untuk mengeksplorasi kekuatan elemen sinematik—terutama musik—dalam membangun pengalaman menonton yang lebih dalam dan menggugah emosi penonton.

Laporan : Ria Satria

Tags: