REAKSIMEDIA.COM | Jakarta – Ibarat membangun gedung jangkung, maka yang pertama kali dibangun adalah pagar tinggi dan rapat di sekeliling bangunan. Ini untuk memastikan hanya orang-orang berkepentingan yang berhak masuk, sekaligus memfilter pihak-pihak yang bermaksud tidak baik.
Demikian pula dalam membangun sistem informasi yang kompleks, maka keamanan siber adalah yang pertama kali harus dirancang lebih dulu.
Demikian hal menarik dari paparan Pakar Keamanan Teknologi Informasi sekaligus CEO Xecure IT, Gildas Deograt Lumy pada Webinar Keamanan Siber menuju Identitas Digital Penduduk Indonesia, yang diselenggarakan Ditjen Dukcapil Kemendagri bekerja sama dengan PT Telkom Indonesia, Kamis (16/12/2021).
“Saya suka dengan Dukcapil, karena baru mau bangun sistem udah mikir keamanan sistemnya. Bukan udah jadi baru mikirin security-nya,” kata Gildas yang pernah menjadi tim inti pembentukan Badan Siber dan Sandi Negara ini.

Gildas menyoroti rencana penerapan Digital ID yang dilakukan Ditjen Dukcapil untuk menggantikan fungsi KTP elektronik.
Dirinya menekankan dalam konteks membangun identitas digital jangan sampai mengabaikan aspek keamanan. Sebab, secara substansi terlepas dari teknologi pengamanan dan tata kelola sistem informasi semakin lama kondisinya makin fragile alias tidak aman.
Apalagi, kata Gildas, sistem keamanan yang dipakai masih dengan cyber security mindset tahun 80-an atau 90-an, yakni dengan pola One Time Password (OTP).
“Saya pertama kali menginstall sistem berbasis OTP itu tahun 1998. Aneh, kalo sekarang sudah 20 tahun lewat orang ramai masih mendorong supaya aman pakai OTP,” sindir Gildas.
Hal fundamental menurut Gildas, adalah dibutuhkan strategi FASST dalam membangun Digital ID, yaitu Fleksibel, Agile, Secure, Simple dan Transformative.
Fleksibel berarti sistemnya mendukung pemanfaatan seluruh kegiatan pemerintah, masyarakat, dan bisnis serta mendukung kondisi internet di Indoneia yang belum merata.
Agile, berarti mendukung kelincahan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), Bisnis 4.0, dan Masyarakat 4.0.

Secure, berfungsi meningkatkan keamanan nasional dan menjamin kehandalan penggunaan, keamanan bertransaksi, dan perlindungan data pribadi.
Simple artinya mudah digunakan oleh masyarakat
Transformative, sebagai enabler atau membantu pencapaian tujuan transformasi digital Indonesia 4.0.
Laporan : Suryadi
Sumber : Puspen Kemendagri
Tags: jakarta
-
Wapang TNI Dampingi Menhan RI Tinjau Yonif TP 888, Perkuat Pertahanan Negara
-
Gus Halim: Porsi Penempatan Perempuan Indikator Keberhasilan SDGs Desa
-
KPU Kabupaten Pinrang Gelar Diskusi Komunikasi dan Kolaborasi Media untuk Sukseskan Pilkada Serentak 2024
-
Kapolri Pimpin Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Bhayangkara Pratama
-
Jelang HUT Ke-62 Wara, Danlanud beserta Ketua PIA AG Cab.7/D.II Lanud Sultan Hasanuddin Dampingi Wara Ikuti Pembekalan Ibu Winayadhati Kanyasena
-
Bhabinkamtibmas Wilayah Hukum Polsek Babakan Madang Sambangi Pam Swakarsa dan Sampaikan Pesan Kamtibmas dan Ajak Cegah TPPO
-
HUT ke-64 Kodam Hasanuddin Gelar Donor Darah
-
Aparat Penegak Hukum Harus Ungkap Fakta Penembakan di Kantor MUI Pusat
-
Kunjungi Distrik Prafi, Tri Tito Karnavian Harap Angka Stunting Terus Menurun
-
Ditresnarkoba Polda Jateng Bersama Bea Cukai Tanjung Emas ungkap Setengah Kilo Sabu di Kabupaten Semarang

