REAKSIMEDIA.COM | Jakarta – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar membuka kegiatan Training of Trainer (ToT) Peningkatan Kapasitas Tenaga Pendamping Profesional – Program Penguatan Pemerintahandan Pembangunan Desa (P3PD) tahun anggaran 2021, di Jakarta, Selasa (5/10/2021) malam.
Halim Iskandar mengatakan, tugas Pendamping Profesional usai TOT adalah melatih Para Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa agar terjadi proses transformasi yang utuh terkait tugas pokok dan tugas tambahan dari Kemendes PDTT.
“Saya harap TOT ini diikuti dengan serius untuk peningkatan kualitas SDM,” kata Halim Iskandar.
Halim Iskandar menegaskan jika Pendamping Desa itu adalah anak kandung Kemendes PDTT karena Ia dimanapun memaparkan tiga pihak yang mendukung eksistensi Kementerian yang dipimpinnya yaitu Pertama ASN sebagai pemilik.
Kedua, para pendamping desa yang juga pemilik karena telah ada sejak Kementerian ini dibentuk tahun 2014.
Halim Iskandar berusaha maksimal agar Pendamping Desa ini bisa menjadi Tenaga Pendamping Profesional makanya sejumlah hal digenjot.
“Pertama, Pengawasan dan peningkatan kinerja yang menjadi tolok ukur profesionalitas,” kata Doktor Honoris Causa dari UNY ini.
Kedua, profesionalitas itu dibangun oleh Merrit System, yaitu promosi. Pengisian posisi di sebuah tempat diupayakan diisi oleh Pendamping pada level di bawahnya.
“Ketiga, yaitu beasiswa bagi para pendamping untuk sistem pembelajaran lampau, ini diprioritaskan bagi Pendamping Lokal Desa agar bisa promosi dan tidak terhambat oleh jenjang pendidikan,” kata Pria yang akrab disapa Gus Halim ini.
Program andalan Kemendes PDTT saat ini, SDGs Desa sangat butuhkan bantuan para pendamping desa untuk wujudkan menjadi arah umum kebijakan pembangunan di desa.
Olehnya, para pendamping desa hanya memahami secara utuh dan komprehensif SDGs Desa dengan 18 Goals dan 222 Indikator.
Hari ini, kata Gus Halim, SDGs Desa sedang diuji validitas dengan satu target Presiden Joko Widodo yaitu tahun 2024 Indonesia harus terbebas dari Kemiskinan Ekstrem atau Nol Persen Warga Miskin Ekstrem.

“Bicara Nol Persen berarti bicara SDGs yaitu No One Left Behind,” kata Mantan Ketua DPRD Jawa Timur ini.
Pendekatan yang dilakukan harus berbasiskan data mikro desa karena berbicara by name by adress atau total jumlah.
Olehnya berbicara, Warga miskin ekstrem harus berbicara mengenai sensus, bukan survei.
Target penuntasan kemiskinan ekstrem pada 2021 sebanyak 35 Kabupaten/kota untuk 8.263 desa. Tahun 2022 ditargetkan bakal dilaksanakan di 138 Kabupaten/Kota pada 29.632 desa dan tahun 2023 bakal dilaksanakan pada 261 Kabupaten/Kota untuk 37.523 desa.
“Disinilah peran penting pendamping desa karena kita berbicara tentang data mikro. Olehnya mulai 2022, tidak ada lagi Rekor Pembangunan tingkat Provinsi, akan dilaksanakan tingkat kabupaten,” kata Mantan Ketua DPRD Jawa Timur ini.
Turut hadir Kepala BPSDM Luthfiyah Nurlela, Staf Khusus Abdul Malik Haramain dan Kepala Pusat Pelatihan ASN Mulyadin Malik.
Laporan : Suryadi
Tags: Jakara
-
Komisi V DPR Sepakati Pagu Anggaran Kemendes PDTT Rp2,75 Triliun
-
Di Tengah Pandemi, Kerukunan Umat Beragama Harus Terus Dirawat
-
Rakor Kementrans-Pemprov Malut, Wamen Viva Yoga: Menciptakan Lapangan Kerja Lewat Cetak Sawah di Kawasan Transmigrasi
-
Taklimat Akhir ITJEN TNI Periode I TA 2025 Di Komando Atau Satuan Wilayah Sulawesi Selatan Dan Sulawesi Barat
-
Syamsudin Bakal Maju Dalam Kancah Pilkada Meranti 2024
-
Di Balik Angka Triliunan APBD 2026: DPRD Halut Serukan Disiplin Anggaran dan Pengendalian Belanja”Harmoni Pemerintahan Mengawali Masa Sidang Baru dan Pengajuan RAPBD 2026
-
Aksi Nyata Penguatan Pangan: Kapolres Halut Bersama Forkopimda dan Akademisi UNIERA Tanam Jagung Serentak 2026
-
Kemnaker Usulkan Penguatan Pedoman Kesempatan Kerja Inklusif ASEAN
-
Berkas Perkara Pelaku Pembacokan Anggota TNI di Lamongan Dinyatakan P21
-
Wali Kota Sukabumi Resmikan Gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA)


