Anne J Coto Ungkap Kisah Pilu di Balik Film Horor Juminten Edan, Pengalaman Kehilangan Anak Bikin Akting Makin Menguras Air Mata

REAKSIMEDIA.COM | Jakarta – Aktris senior Anne J Coto mengungkapkan pengalaman emosionalnya saat memerankan karakter Zalma dalam film horor terbaru Juminten Edan. Menurut Anne, karakter tersebut begitu dekat dengan perjalanan hidupnya sehingga setiap adegan penuh emosi terasa sangat nyata.

Anne menuturkan, sejak pandemi Covid-19 dirinya lebih banyak menetap di Bali. Kesempatan bergabung dalam film Juminten Edan datang secara tak terduga. Ia menerima tawaran pada Juli 2025 tanpa melalui proses casting, kemudian langsung menjalani syuting pada Agustus 2025.

“Semuanya berjalan sangat cepat. Saya hanya dihubungi lewat telepon. Tidak ada casting sama sekali karena sutradara sudah mengenal saya sejak lama. Beliau pernah menjadi director dan menyutradarai sinetron Gajah Mada serta sudah memahami karakter akting saya. Menurut beliau, tokoh Zalma memang harus saya yang memerankannya,” ujar Anne.

Bagi Anne, memerankan sosok Zalma bukan sekadar pekerjaan sebagai aktris, tetapi juga menjadi perjalanan emosional yang membangkitkan kenangan masa lalunya.

“Saya seorang ibu. Saat mendalami karakter Zalma, saya teringat pengalaman pribadi ketika harus berpisah dengan anak pertama saya yang dibawa ayahnya ke Amerika. Itu adalah momen yang sangat berat dalam hidup saya. Setiap membayangkan kehilangan anak, air mata saya selalu mengalir. Karena itu cerita di film ini sangat relate dengan kehidupan saya dan juga banyak ibu di luar sana,” ungkapnya, kepada Satria Sabil Wartawan Kami, di Gala Preimere Film Juminten Edan, Kamis, ( 16/7/2026 )

Anne menilai Juminten Edan bukan hanya menyajikan ketegangan horor, tetapi juga membawa pesan moral yang kuat mengenai kasih sayang seorang ibu dan hubungan dalam keluarga.

“Film ini mengajarkan bahwa sebagai orang tua, khususnya ibu atau mertua, jangan terlalu mendominasi kehidupan rumah tangga anak-anak. Cinta harus menjadi yang utama. Biarkan mereka memilih jalan hidupnya dan tetaplah mendukung kebahagiaan mereka meski tidak selalu sesuai dengan keinginan kita,” katanya.

Baca juga:  Tuntaskan Pemulihan Pascabencana Sulteng, Wapres Bertolak ke Palu

Untuk membangun chemistry antarpemain, Anne mengaku seluruh pemain menjalani proses reading yang cukup intens selama sekitar satu minggu. Latihan tersebut membuat hubungan antarpemeran menjadi semakin solid sehingga emosi dalam setiap adegan dapat tersampaikan dengan baik.

“Reading kami sangat intens. Dalam waktu sekitar seminggu kami terus berlatih bersama hingga akhirnya chemistry antarpemain benar-benar terbentuk,” ujarnya.

Meski mengangkat kisah horor dan syuting dilakukan di lokasi yang memiliki nuansa mistis, Anne mengaku tidak mengalami kejadian supranatural selama proses produksi.

“Tidak ada pemain yang mengalami kesurupan atau gangguan mistis. Namun rumah produksi memang sudah mengantisipasi semuanya dengan menghadirkan orang yang ahli di bidang spiritual. Selama syuting kami juga selalu mencium aroma kemenyan dan ada paranormal yang mendampingi proses produksi sebagai langkah antisipasi,” jelasnya.

Di akhir wawancara, Anne berharap Juminten Edan mampu memberikan warna baru bagi perfilman Indonesia karena memadukan berbagai genre dalam satu cerita.

“Saya berharap Juminten Edan bisa menjadi tontonan yang berbeda. Film ini bukan hanya horor, tetapi juga menghadirkan drama yang menguras emosi, aksi, unsur mistis, hingga thriller dalam satu paket. Saya mengajak seluruh pecinta film Indonesia untuk menyaksikan Juminten Edan di bioskop,” tutup Anne.

Tags: