Kementerian Transmigrasi Perkuat Kemitraan Media untuk Komunikasikan Transformasi Transmigrasi

REAKSIMEDIA.COM | Batam – Kementerian Transmigrasi memperkuat kemitraan dengan insan media melalui Workshop Kehumasan dan Media Gathering Kementerian Transmigrasi 2026 di Batam, Kepulauan Riau, 8–10 Oktober 2026. Kegiatan bertema “Transmigrasi Baru, Dimulai” ini menjadi ruang untuk memperkuat sinergi komunikasi dan pemahaman media terhadap transformasi transmigrasi.

Sekretaris Jenderal Kementerian Transmigrasi, Edy Gunawan, menegaskan bahwa transformasi transmigrasi membutuhkan keterlibatan aktif insan media untuk mengawal proses perubahan dan menyampaikan dampaknya kepada masyarakat.

“Tema kegiatan kita adalah “Transmigrasi Baru, Dimulai”. Penekanannya adalah pada Transmigrasi Baru, bukan sekadar pemindahan penduduk, melainkan upaya menghadirkan kehidupan yang lebih baik melalui pembangunan kawasan dan pusat pertumbuhan ekonomi baru,” dalam sambutan di Media Gathering, Batam, Kamis (8/10).

“Kata “dimulai” mencerminkan kejujuran bahwa perjalanan transformasi ini masih panjang dan membutuhkan pengawasan serta keterlibatan aktif insan media. Pemerintah siap bersikap terbuka, mendengar masukan, dan menerima kritik demi perbaikan berkelanjutan,” lanjutnya.

Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kementerian Transmigrasi, Imam Yunarto mengatakan, kegiatan ini bertujuan membangun sinergi publikasi bersama media untuk menyebarluaskan narasi positif mengenai transformasi transmigrasi.

“Pada kesempatan ini, kegiatan workshop dan media gathering ini kami selenggarakan sebagai bagian dari upaya membangun sinergi dan kolaborasi, publikasi bersama insan media guna menyebarluaskan literasi positif atau narasi positif terkait sinergi dan capaian program transformasi transmigrasi,” ujarnya.

Transformasi tersebut diarahkan untuk mendorong aktivitas ekonomi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, komunikasi publik menjadi bagian penting dalam memastikan perubahan program dipahami masyarakat.

“Keberhasilan pelaksanaan transformasi transmigrasi sangat ditentukan oleh efektivitas komunikasi publik,” ujar Kepala Biro Imam.

Sekjen Edy menegaskan, media berperan penting sebagai kontrol sosial sekaligus jembatan informasi pemerintah kepada masyarakat.

“Media adalah bagian penting dari suatu kontrol sosial dan menjaga ruang publik. Oleh karena itu sekali lagi kita harus mengharmonisasikan hubungan kita bukan hubungan saling menguasai tetapi saling menguatkan dan saling mengawasi,” jelasnya.

Ia turut mengatakan, Kementerian Transmigrasi membuka akses informasi, narahubung, serta kesempatan bagi media untuk melihat langsung pembangunan di kawasan transmigrasi. Keterbukaan tersebut diharapkan membuat pemberitaan lebih dekat dengan kondisi lapangan.

“Adanya akses lapangan insyaallah kami akan memfasilitasi media apabila dibutuhkan untuk melihat langsung kawasan transmigrasi melihat sesuatu tempat-tempat yang sedang dilakukan pembangunan tentunya tenang saja tanpa skenario,” katanya.

Baca juga:  Wakapolresta Barelang Gelar Konferensi Pers Pemusnahan Narkotika Jenis Sabu Seberat 3,057,22 KG

Ia juga mengingatkan agar komunikasi publik berangkat dari dampak yang dirasakan masyarakat dan didukung bukti.

“Yang pertama adalah apa yang berubah bagi masyarakat yang kedua apa dampak bagi masyarakat apakah kita sudah mendengarkan mereka,” ujarnya.

Penguatan pemahaman media juga dilakukan melalui pembahasan program utama Kementerian Transmigrasi, termasuk 5T, yakni Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusa, dan Trans Gotong Royong.

Sesditjen Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi, Wibowo Puji Raharjo mengatakan, media kini memiliki peran lebih luas dalam pembangunan kawasan.

“Media itu sebagai mitra strategis komunikasi kebijakan. Dari kanal publikasi menjadi mitra strategis pembangunan kawasan,” ujarnya.

Menurutnya, transformasi transmigrasi tidak lagi sebatas penyediaan lahan dan penempatan penduduk, tetapi mengintegrasikan lahan, aset, sumber daya manusia, investasi, dan potensi kawasan untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Melalui pendekatan tersebut, pembangunan kawasan diarahkan untuk meningkatkan produksi, nilai tambah, investasi, lapangan kerja, pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi, Nirwan Ahmad Helmi, menegaskan bahwa pendekatan transmigrasi baru juga menitikberatkan pada penciptaan nilai tambah dan pengembangan sumber daya manusia.

“Pendekatan transmigrasi baru menekankan pada penciptaan nilai tambah (value creation) dan pengembangan sumber daya manusia agar warga tidak sekadar dipindahkan, melainkan terhindar dari “kekejaman ruang”,” ujarnya.

Sekjen Edy menegaskan, keterbukaan dan kemitraan dengan media akan terus diperkuat agar perubahan di kawasan transmigrasi dapat diketahui masyarakat secara langsung.

“Kementerian Transmigrasi sudah bekerja, Kementerian Transmigrasi sudah melakukan perubahan, perubahan yang ingin-ingin betul dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Ia pun mengajak media memperkuat hubungan sebagai mitra sekaligus sahabat Kementerian Transmigrasi dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Melalui penguatan kemitraan dengan media, Kementerian Transmigrasi berharap informasi mengenai transformasi transmigrasi dapat tersampaikan secara terbuka, akurat, dan dekat dengan masyarakat, sekaligus mendorong partisipasi publik dalam membangun kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan baru.

Tags: