REAKSIMEDIA.COM | Gorontalo Utara – Lebah trigona sudah lama ada di Kawasan Transmigrasi Sumalata, tapi selama ini dianggap hama. Sarangnya yang menempel di atap dan dinding rumah kerap dibakar atau diusir, dan sebagian warga percaya lebah kecil itu bisa membuat tuli.
Trigona sebenarnya tidak menyengat, dan madunya pun termasuk yang paling mahal, dijual Rp85.000 per 100 mililiter atau Rp600.000 hingga Rp650.000 per liter.
Untuk mengubah pandangan itu, Tim 1 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga menggelar pelatihan budidaya trigona pada 18 hingga 20 Agustus 2026. Sebanyak 30 orang ikut serta, terdiri dari 26 warga perwakilan dari 6 SP (satuan permukiman) dan 4 anggota Yonif 824, dengan praktisi trigona, Sudarsono, sebagai pemandu.
“Banyak hal yang sebelumnya kami belum tahu tentang lebah trigona ini. Dengan adanya pelatihan ini, ke depan merupakan prospek yang menjanjikan, yang bisa menambah nilai ekonomi,” ujar Ading Suhana (44), warga Desa Cempaka Putih, Tolinggula, peserta pelatihan budidaya trigona.
“Kami ingin mengubah pandangan bahwa ini bukan hama, tapi lebah penghasil madu yang paling mahal. Harapannya kesejahteraan masyarakat meningkat, tapi alamnya tetap terpelihara,” ujar Johny Alfian Khusyairi, Ketua Tim 1 Ekspedisi Patriot Unair.
Selama dua hari pelatihan, peserta menginap di Desa Cempaka Putih. Desa ini dipilih karena banyak ditumbuhi tanaman buah, sumber pakan alami bagi lebah trigona. Mereka mempelajari karakteristik trigona, cara mengelola koloni, dan teknik pemanenan, sebelum ditutup dengan praktik membuat stup atau rumah lebah dari kayu dan bambu.
Praktik itu ternyata berlanjut di rumah masing-masing. Setiap peserta membuat dua stup sendiri, dan sebagian bahkan berkreasi menyambungkan selang dari sarang alami di pohon kelapa menuju stup buatan mereka.
Tim kemudian membagikan tiga stup berisi koloni dan memantaunya sembilan kali di tujuh lokasi sepanjang Agustus hingga September. Dari pemantauan itu terlihat bahwa ketersediaan pakan sangat menentukan hasil panen.
Muhammad Sholeh, warga Cempaka Putih yang sudah memelihara trigona selama dua tahun, misalnya, baru memanen sekitar 200 mililiter madu karena pakan di sekitar sarangnya kurang. Karena itu warga kini didorong menyisihkan pohon buah yang tidak disemprot pestisida sebagai sumber pakan lebah.
Sisa stup berisi koloni dijadwalkan diserahkan pada Oktober, setelah ketersediaan pakan di lokasi penempatan dipastikan memadai. Adapun panen pertama para peserta diperkirakan mulai November.
Pengelolaan potensi lokal seperti trigona sejalan dengan Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto tentang kemandirian bangsa.
“Sumber daya alam harus kita olah menjadi nilai tambah dan pekerjaan. Tetapi pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan,” kata Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono di Jakarta, Minggu (06/09/2026).
Kementerian Transmigrasi pun menempatkan kekayaan alam di kawasan transmigrasi sebagai modal yang perlu digarap bersama warganya.
“Kita diberkahi oleh Tuhan dengan dua hal besar: kekayaan sumber daya alam dan bonus demografi yang luar biasa. Ini adalah bahan bakar terbaik untuk kemajuan bangsa, jika kita kelola dengan tepat,” ujar Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara di Jakarta, Rabu (11/06/2025).
Tags: gorontalo utara
-
Kementerian PUPR Tambah 359 Bed Perawatan Covid-19 di RSCM
-
Pihak Kepolisian Polsek Cijeruk Polres Bogor dan Instansi Terkait Cek TKP Longsor Turab Penahan Tebing Stasiun Kereta Maseng Kp Gembrong Kec Cigombong
-
Tingkatkan Inovasi, Satlantas Polres Mukomuko Buka Pelayanan SIM di Hari Sabtu
-
Dirangkai Dengan Acara Buka Puasa Bersama, Kapolsek Ipuh Sosialisasikan Perubahan Nama Polsek Kepada Masyarakat
-
Kodim 0428/MM Gelar Upacara Kenaikan Pangkat Prajurit
-
Sat Resnarkoba Polres Lebak berhasil Amankan Dua Pelaku dan 9 bungkus Plastik Sabu
-
Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Bertolak ke Jerman Hadiri Hannover Messe 2023
-
Waspadai Varian Omicron, Masyarakat Diminta Batasi Aktivitas Selama Periode Nataru
-
Mengenal Sosok Dr.Saleh Partaonan Daulay,M.Ag.M.Hum.MA Ketua Fraksi PAN RI
-
Gus Halim: Literasi Taman Bacaan Tingkatkan SDM Masyarakat Desa


