Wamen Viva Yoga Dorong TEP Menjadi Pemimpin Adaptif Untuk Memajukan Kawasan TransmigrasiKota Bogor

REAKSIMEDIA.COM |Kota Bogor – Seorang pemimpin harus mempunyai visi dan strategi untuk mengambil keputusan yang tepat, memberi motivasi, menjadi inspirasi dan tauladan, inovatif, dan mampu menyelesaikan masalah di tengah masyarakat.

Ungkapan demikian disampaikan Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi di
hadapan 1.476 orang yang memenuhi aula besar di salah satu kawasan Kota Bogor,
Jawa Barat pada Minggu (26/7). Mereka terdiri dari 39 guru besar, 158 doktor, 263
master, dan 1.016 sarjana yang datang dari 10 universitas, yaitu UI, IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, UGM, Universitas Diponegoro, ITS, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.

Sebagai civitas akademika yang telah lolos menjadi anggota Tim Ekspedisi Patriot
(TEP) 2026 Kementerian Transmigrasi (Kementrans), sebelum diterjunkan ke 53
kawasan transmigrasi yang berada di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Papua, dan lainnya, lebih dahulu mereka diberi pembekalan berbagai macam keilmuan agar mampu menindaklanjuti riset TEP 2025.

Lebih lanjut dalam pembekalan terkait Kepemimpinan Adaptif, Viva Yoga menegaskan anggota TEP harus mampu memegang dan merealisasikan prinsip-prinsip kepemimpinan adaftif. Meski demikian diingatkan antara teori dan fakta di lapangan terkadang bisa berbeda.

“Masing-masing kawasan transmigrasi memiliki tantangan yang berbeda,” ujar
Wamen Viva Yoga.

Antar kawasan bisa memiliki sosiologi, budaya, ekonomi, dan potensi sumber daya
alam dan manusia yang tak sama. “Tentu hal demikian membutuhkan pendekatan
khusus bagaimana memecahkan masalah yang ada di lapangan,” tuturnya.

Dicontohkan bila ada masalah gagal panen, pemimpin yang tradisional, ia hanya
berpikir perlunya menambah pupuk. Namun bagi pemimpin yang adaptif, ia berpikir inovatif, komprehensif, dan menggunakan logika mengapa terjadi gagal panen.

“Bagi pemimpin adaptif pasti berpikir ada beberapa faktor penyebab gagal panen,” ujar mantan Anggota DPR Komisi IV itu.

Baca juga:  Galaxy Stars Basketball dan YPKMK Kolaborasi Kembangkan Minat Basket Siswa

Sebagai pemimpin adaptif pasti ia mengajukan hal-hal yang baru seperti mengubah pola tanam, memperkenalkan varietas baru, memperbaiki irigasi, dan melakukan kerjasama dengan pihak lain.

“Pemimpin tradisional hanya bekerja rutin tanpa inovasi. Pemimpin adaptif, ia akan
berinovasi, berkreasi, dan mencari solusi,” tambahnya.

Seseorang akan menjadi pemimpin biasa atau adaptif dikatakan akan teruji di lapangan. Viva Yoga ingin anggota TEP mampu menjadi pemimpin adaptif sehingga
mampu menyelesaikan dan memecahkan persoalan-persoalan yang ada di kawasan
transmigrasi.

“Hadirnya anggota TEP di kawasan transmigrasi harus membawa perubahan,”
tegasnya.

Viva Yoga mengungkap transmigran yang sukses karena mereka memegang prinsip-
prinsip kepemimpinan adaptif. Mereka yang diberangkatkan ke Sumatera, Kalimantan,

Sulawesi, Papua dan pulau lainnya dengan penuh keberanian meninggalkan
kampung halaman untuk berjuang merubah nasib.

“Seorang transmigran berani mengambil risiko melakukan perubahan hidup di tempat yang baru untuk mengolah tanah sebagai sumber ekonomi,” ungkapnya.
Ketelatenan dan kesabaran membuat mereka tidak hanya sejahtera namun juga
mampu menciptakan kawasan pertumbuhan baru di luar Jawa.

“Dengan fakta demikian, pada masa Orde Baru transmigran disebut sebagai
Pahlawan Pembangunan, pada masa Presiden Prabowo disebut dengan Patriot
Bangsa,” ujar pria asal Lamongan, Jawa Timur.

Tags: