REAKSIMEDIA.COM | Badung – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Suhajar Diantoro mengungkap tiga kunci sukses otonomi daerah. Hal tersebut disampaikan Suhajar saat menutup kegiatan Pemetaan Kapasitas Pemerintahan Daerah di Hotel Royal Tulip Springhill Resort Jimbaran Bali, Sabtu (2/7/2022). Penutupan tersebut merupakan kegiatan akhir dari Seminar Nasional dan Rapat Kerja Nasional XII Asosiasi Sekretaris DPRD Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia (ASDEKSI).
Suhajar menyebut, kunci pertama kesuksesan otonomi daerah adalah kepemimpinan kepala daerah yang didukung oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Dia menegaskan, daerah yang bagus kinerjanya dipimpin oleh kepala daerah yang membuat terobosan untuk mempermudah pelayanan kepada masyarakat.
Kedua, kesuksesan otonomi daerah bergantung pada kapasitas pemerintah daerah. Hal ini ditandai dengan peningkatan kemampuan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya masing-masing.
“Di OPD-OPD itu harus meningkat kapasitasnya untuk bisa menjalankan program kepala daerah. Itu yang membuat kepala daerah yang (dapat menjalankan) program berjalan cepat, tetapi (ketika) bagian-bagian itu berjalan lambat maka akan diubah semua oleh kepala daerah,” tuturnya.
Kesuksesan otonomi daerah ketiga, yaitu kontrol dan partisipasi masyarakat. Kepala daerah yang ingin membangun terobosan-terobosan harus melibatkan partisipasi masyarakat. Fitur-fitur pelayanan yang diluncurkan kepala daerah harus disosialisasikan kepada rakyat untuk diketahui dan diikuti.
Suhajar menjelaskan, Indonesia menganut sistem otonomi daerah yang berasas desentralisasi. Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah mengamanatkan hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom. Ini utamanya mengatur dan mengurus sendiri sejumlah urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat di dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“UU 23 ini disebutkan berotonomi dengan mempedomani norma standar kriteria prosedur yang dibuat oleh pemerintah pusat, pemilik kedaulatan rakyat. Jadi berotonomi tidak boleh lari dari Norma Standar Prosedur dan Kriteria (NSPK), silakan berotonomi tapi pedomani NSPK-nya. Lalu apa yang diotonomi? 32 urusan yang diserahkan kepada daerah,” tegasnya.
Di sisi lain, pada era digital seperti sekarang ini otonomi daerah juga akan berjalan lancar ketika Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) diterapkan. Suhajar menyebut, suksesnnya pembangunan SPBE tak berbeda jauh dengan kunci sukses otonomi daerah yang ditentukan oleh tiga hal. Pertama, adanya kemauan kepala daerahnya. Kedua, adanya partisipasi masyarakat, yakni mau dan mengikuti sistem yang dijalankan. Ketiga, melakukan pembangunan infrastruktur di bidang Teknologi Informasi (TI).
“Suksesnya digitalisasi ditentukan lagi oleh 3 hal (tersebut),” tandas Suhajar.
Laporan : Suryadi
Sumber : Puspen Kemendagri
Tags: Badung
-
Jumat Curhat di Desa Talang Petai, Polsek V Koto Sampaikan Pesan Kamtibmas dan Himbauan Antisipasi Karhutlah
-
Dandim 1714/PJ Dukung Pemerintah Daerah Peresmian Gedung Lubung Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Puncak Jaya
-
Timnas Indonesia Gelar Latihan Perdana di Irak
-
Suami Pelaku KDRT di Banyumas Ditangkap Polisi
-
Bhabinkamtibmas Wilayah Hukum Polsek Megamendung Berikan Pengarahan Kepada Warga Desa Cipayung Girang dan Menyampaikan Pesan Kamtibmas Pada Saat Melaksanakan Siskamling
-
Kapolres Bogor Gelar Silaturahmi dan Apresiasi Bersama Supeltas (Sukarelawan pengatur lalulintas)
-
Alih Tugas Dan Mutasi 298 Personel Polda Kepri
-
Sinergitas TNI dan Polri, Dandim 1710/Mimika Semarakkan HUT Ke-77 Bhayangkara
-
Komisi VIII: Sikap Oknum Peneliti BRIN Mendegradasi Keilmuan dan Bentuk Ujaran Kebencian
-
Polsek Kembangan Jakarta Barat Amankan Seorang Debt Collector Usai Rampas Motor Korban





