REAKSIMEDIA.COM | Jakarta – Festival Film Horor (FFH) edisi ke-5 kembali digelar dan semakin menunjukkan eksistensinya sebagai ruang diskusi sekaligus apresiasi bagi insan perfilman horor Tanah Air. Bertempat di Pictum Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, FFH kali ini mengangkat tema “Horor Sensor, Promosi Film Horor”.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Akhlis Suryapati, Ryan Fadilah, dan Rama Djunarko, dengan moderator Irfan Handoko.
Dalam diskusi, para pembicara mengupas bagaimana proses sensor dalam film horor ternyata sudah dimulai sejak tahap paling awal produksi, bahkan sebelum film benar-benar dibuat.
Ryan Fadilah yang telah berpengalaman lebih dari satu dekade di industri film mengungkapkan bahwa “sensor internal” sering dilakukan sejak tahap ide. Produser bahkan kerap merahasiakan judul hingga nama sutradara untuk menghindari pencurian ide.

Sementara itu, Rama Djunarko menjelaskan strategi lain agar film bisa lolos sensor, yakni dengan mengangkat kisah nyata. Menurutnya, pendekatan tersebut seringkali lebih mudah diterima, meskipun tetap menghadapi tantangan, terutama jika ada keberatan dari pihak keluarga terkait adegan sensitif.
“Kadang ada bagian cerita yang justru tidak diizinkan oleh keluarga korban, meskipun itu bagian penting dari alur,” jelasnya.
Di sisi lain, Akhlis Suryapati menekankan pentingnya pemahaman akar cerita dalam film. Ia mengibaratkan film seperti pesilat yang harus memiliki “kuda-kuda” kuat.
“Horor itu soal kejutan. Di Indonesia, unsur mistik menjadi kekuatan. Ini bisa dikombinasikan dengan judul dan pendekatan cerita agar lolos sensor sekaligus menarik penonton,” ujarnya.
Meski memiliki sudut pandang berbeda, para narasumber sepakat bahwa keberadaan Lembaga Sensor Film merupakan bagian dari peran negara dalam melindungi masyarakat dari dampak negatif film.
Tak hanya dalam produksi, sensor juga berlaku dalam tahap promosi. Mereka menegaskan bahwa promosi tetap harus mematuhi aturan dan tidak menimbulkan keresahan publik.

Pada edisi kali ini, FFH menetapkan film Suzanna: Santet Dosa di Atas Dosa sebagai Film Terpilih dan berhak meraih Nini Suny Award.
Selain itu, sejumlah penghargaan lain juga diberikan kepada insan perfilman, yakni:
• Pemain Wanita Terpilih: Sandrinna Michelle (film Danur)
• Pemain Pria Terpilih: Iwa K (film Suzanna)
• Sutradara Terpilih: Awi Suryadi (Danur)
• Director of Photography: Muhammad Firdaus (Suzanna)
FFH edisi ke-5 pun kembali menegaskan bahwa industri film horor Indonesia tidak hanya berkembang dari sisi kreativitas, tetapi juga semakin matang dalam menghadapi tantangan sensor dan strategi promosi.
Tags: jakarta
-
Pangdam XII/Tpr Tinjau Drill Latbakjatrat YTP Yonif R 641/Bru
-
Lanjutkan Pembangunan Jalan Tol Trans Jawa, Ruas Tol Paspro Seksi Probolinggo Timur-Gending Selesai Maret 2023
-
Sertipikat Buka Peluang Tingkatkan Kesejahteraan Warga
-
Sambut HUT Korem Ke 76, Danrem 041/GAMAS Ziarah Ke Makam Pahlawan
-
Wujud Perhatian, Dandim 0808/Blitar Gelar Anjangsana ke Rumah Anggota yang Sedang Sakit
-
Razia Miras, Polsek Bajeng Gowa Amankan Ratusan Liter Miras Jenis Ballo
-
Polres Boyolali Musnahkan 300 knalpot Brong Hasil Razia
-
Senator Gus Hilmy Nilai Masalah Jalan di Lampung Bukti Pengawasan Pemerintah Pusat Kurang Maksimal
-
Kabidhumas Polda Sulsel: Keracunan Santri di Takalar, Aparat Kepolisian Sudah Laksanakan Monitoring
-
SMU Negeri 1 Mukomuko Harumkan Dan Bawa Nama Daerah Ketingkat Nasional





