REAKSIMEDIA.COM | Tegal – Anggota Fraksi PKS MPR RI, Dr. Abdul Fikri Faqih, mengungkapkan, salah satu pelajaran yang bisa diambil dalam setiap sosialisasi 4 Pilar MPR RI adalah pentingnya keteladanan yang dipraktikkan oleh para bapak bangsa dan pahlawan-pahlawan negara.
“Yakni, keteladanan para negarawan yang senantiasa dipraktikan, dilestarikan, dan menjadi rujukan bagi generasi penerus,” kata Fikri dalam Sosialisasi 4 Pilar bersama Dewan Pengurus Partai Keadilan Sejahtera Kota Tegal, Jawa Tengah, Kamis (8/12/2022) lalu.
Menurut Fikri, keteladanan itu dapat dilihat dalam keragaman mereka menghadirkan Bhineka Tunggal Ika saat di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Mereka menyepakati Pancasila sebagai dasar negara dalam Panitia 9. Kemudian, kompromi menyelamatkan Pancasila secara final pada 18 Agustus 1945, serta menyepakati konstitusi RI yaitu UUD 1945 dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Dia melanjutkan para pemimpin tingkat nasional maupun lokal penting menghayati, meneladani, mempraktikkan kembali kenegarawanan para bapak bangsa yang telah mewariskan Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bineka Tunggal Ika yang kemudian disebut sebagai 4 Pilar MPR RI.
“Supaya nilai-nilai unggul itu tersegarkan dan tersosialisasikan kepada para pemuda khususnya sebagai generasi pewaris dan pelanjut kepemimpinan di negara ini,” imbuh politisi PKS asal Tegal ini.
Ia berharap dengan sosialisasi itu, sikap keteladanan tumbuh di diri para calon pemimpin bangsa. Sehingga dalam praktik penyelenggaraan negara keteladanan itu dapat dihadirkan.
“Yang perlu ditunjukkan itu memang keteladanan. Termasuk dalam konteks berbangsa dan bernegara, para pemimpin dan pejabat pemerintah dari level terendah hingga presiden sudah sepatutnya memberikan keteladanan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fikri percaya apabila keteladanan itu diihadirkan para pemimpin sebagaimana dicontohkan para bapak bangsa, maka masyarakat dapat percaya sehingga mudah diajak untuk mengikuti atau mencontohnya dengan baik. Apalagi rakyat Indonesia masih kental dengan budaya pathernalismenya sehingga jargon-jargon yang beredar di masyarakat dapat diimplementasikan dengan baik alias tidak sebatas kata-kata.
Misalnya ungkapan ‘Saya Pancasila’, itu perlu dihayati dengan baik dan komitmen untuk melaksanakan dengan jujur. Dimulai dari para pemimpin, sebagaimana dahulu dicontohkan oleh Bung Karno, Bung Hatta, KH Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, serta yang lainnya,” pungkas FIkri. (*)
Laporan : Suryadi
Tags: tegal
-
Sengketa Lahan Akses Kantor Kecamatan Limo, Ahli Waris Gugat Pemkot Depok
-
Asah Kemampuan Personel, Polres Mukomuko Gelar Latihan Menembak
-
Antisipasi Tindak Kriminal, Polres Banjarnegara Intensif Patroli BLP
-
Gala Premiere Film ‘Teman Tidur’, Alarm Penting Bagi Orang Tua dan Guru
-
Mengabdi dan Berdoa: Momen Satgas Yonif 312 di Perbatasan Papua
-
BPSDM Kemendagri Gelar Pelatihan Penilaian Angka Kredit bagi Pejabat Fungsional PPUPD
-
Disematkan Brevet Hiu Kencana TNI AL, Kapolri: Kekuatan Sinergitas Jaga Kedaulatan Bangsa Indonesia
-
Tiap Hari Satgas TMMD Dibantu Warga Bergelut Dengan Material Dan Suara Mesin Molen Agar Program TMMD Selesai Tepat Waktu
-
Gelar Upacara Hari Pahlawan, Dirjen Danton Ajak Aparatur Kemendes Perangi Kemiskinan dan Kebodohan
-
Jelang Tahun Baru 2022, Polsek Bajeng Razia Ratusan Liter Miras Jenis Ballo





