IMVA 2026–2027 Resmi Diluncurkan, Oleg Sanchabakhtiar Dorong Musik Video Indonesia Go Global dan Tak Kalah oleh AI

REAKSIMEDIA.COM | Jakarta – Industri musik video Indonesia memasuki babak baru. Indonesian Music Video Awards (IMVA) 2026–2027 resmi diperkenalkan sebagai wadah penghargaan sekaligus ruang apresiasi berkelanjutan bagi para kreator di balik lahirnya karya musik video Tanah Air.

Program tersebut diperkenalkan Creative Director sekaligus Founder IMVA, Oleg Sanchabakhtiar, melalui diskusi eksklusif bersama awak media di CC Cafe, Jalan Ampera Raya No. 42, Jakarta Selatan, Sabtu (15/8/2026).

Diskusi yang turut menghadirkan fotografer senior Firdaus Fadil dan Dion Momongan itu membahas perkembangan industri musik video Indonesia, tantangan pekerja kreatif, hingga dampak pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

IMVA Ingin Jadi Rumah Kreator Musik Video Indonesia

Oleg mengatakan, industri musik video Indonesia selama ini belum memiliki wadah penghargaan yang kuat, konsisten, dan berkelanjutan seperti industri film dan musik.

Menurutnya, film memiliki Festival Film Indonesia (FFI) dengan Piala Citra, sementara industri musik mempunyai Anugerah Musik Indonesia (AMI). Karena itu, IMVA dihadirkan untuk mengisi ruang apresiasi sekaligus membangun ekosistem musik video yang lebih profesional.

“Film punya Festival Film Indonesia (FFI) dengan Piala Citra, musik punya Anugerah Musik Indonesia (AMI), tetapi musik video belum memiliki rumah yang kuat. Karena itu IMVA kami hadirkan sebagai ruang apresiasi sekaligus pengembangan industri,” ujar Oleg.

Ia menilai perubahan perilaku penonton membuat musik video tidak lagi sekadar menjadi pelengkap sebuah lagu. Visual kini menjadi bagian penting dalam membangun identitas, karakter, cerita, sekaligus daya tarik sebuah karya musik.

“Sekarang orang mendengar lagu sambil melihat visualnya. Musik video bukan lagi pelengkap, tetapi sudah menjadi bagian utama dari karya musik itu sendiri,” katanya.

Bukan Hanya Penyanyi, Kreator di Balik Layar Ikut Diapresiasi

IMVA dirancang tidak hanya untuk memberikan penghargaan kepada penyanyi maupun musisi. Ajang ini juga memberi perhatian besar kepada para pekerja kreatif di balik layar.

Sutradara, Director of Photography (DOP), editor, penata cahaya, art director, stylist hingga berbagai profesi visual lainnya akan mendapatkan ruang apresiasi melalui sistem kurasi yang disiapkan IMVA.

Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian Cipta Suara Indonesia (CSI) , sebuah kolaborasi lintas profesi di bidang musik dan industri kreatif.

Sejumlah program pendukung juga akan digelar mulai September hingga Oktober 2026, di antaranya workshop, kelas kreatif dan forum kolaborasi yang mempertemukan berbagai pelaku industri kreatif.

Kurasi Setiap Bulan, Menuju Piala Swaradrisya 2027

Salah satu konsep utama IMVA adalah sistem kurasi yang dilakukan secara berkala setiap bulan.

Karya musik video yang telah dirilis dan ditayangkan melalui platform YouTube dapat didaftarkan secara online melalui situs resmi IMVA. Karya yang memenuhi persyaratan kemudian akan menjalani proses kurasi untuk menentukan karya terbaik setiap bulannya.

Para pemenang bulanan selanjutnya akan dikumpulkan dan dipertemukan dalam Grand Final Piala Swaradrisya 2027.

Oleg menegaskan, sistem penjurian IMVA tidak semata-mata melihat musik video sebagai satu karya utuh. Setiap elemen kreatif yang berkontribusi terhadap proses produksi juga menjadi bagian dari penilaian.

“Penjurian tidak harus melihat video sebagai satu kesatuan saja. Kami mengkurasi berdasarkan peran DOP, editor, stylist, art director, dan profesi kreatif lainnya,” jelasnya.

Konsep tersebut diharapkan membuat kontribusi para pekerja kreatif di balik layar tidak tenggelam oleh popularitas artis atau musisi yang tampil di depan kamera.

Baca juga:  Presiden Jokowi Ingin Stop Impor Obat Hingga Alkes

AI Masuk Industri Musik Video, IMVA Tetap Utamakan Kreativitas Manusia

Perkembangan AI menjadi salah satu isu penting dalam peluncuran IMVA 2026–2027.

Oleg menegaskan, IMVA tidak menutup pintu bagi karya yang menggunakan teknologi AI. Namun, penggunaannya harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai bagian dari proses kreatif.

“Untuk karya berbasis AI, peserta wajib melampirkan prompt yang digunakan, karena itu bagian dari proses directing,” ujarnya.

Menurut Oleg, AI seharusnya menjadi alat bantu untuk memperluas gagasan kreator, bukan menggantikan seluruh proses penciptaan.

“AI memudahkan, tetapi jangan sampai kita kehilangan rasa, kehilangan jiwa, dan menyerahkan sepenuhnya proses kreatif kepada AI,” tegasnya.

Karena itu, penilaian IMVA akan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari artistik, sinematografi, kreativitas, storytelling hingga pemanfaatan teknologi AI secara etis.

Pesan untuk Gen Z: Manfaatkan AI, Jangan Kehilangan Rasa

Fotografer senior Firdaus Fadil memandang kehadiran AI sebagai bagian dari perkembangan teknologi yang tidak dapat dihindari.

Ia mengibaratkan perkembangan tersebut seperti perubahan dunia fotografi dari era analog menuju digital.

“AI akan mempermudah fotografer dan kreator. Tinggal bagaimana kita menyikapinya secara bijaksana,” kata Firdaus.

Sementara itu, Dion Momongan mendorong generasi muda untuk memanfaatkan luasnya ruang kreativitas di era digital tanpa kehilangan karakter personal.

“Ruang untuk berkarya sangat luas. Gunakan AI sebijaksana mungkin, tetapi rasa dan kreativitas manusialah yang harus tetap berada di depan,” ujarnya.

Oleg menambahkan, generasi muda saat ini memiliki keunggulan karena dapat mengakses referensi, pengetahuan dan materi pembelajaran dari berbagai platform digital.

“Sekarang sudah ada contoh, referensi, dan akses belajar. Tinggal pilih arah karya yang sesuai dengan mata hati dan karakter masing-masing,” katanya.

IMVA Bidik Festival Musik Video Internasional

Tidak berhenti pada penghargaan tingkat nasional, IMVA juga memiliki target membawa karya musik video Indonesia ke panggung festival dan jaringan industri kreatif internasional.

Karya yang masuk akan melalui proses kurasi oleh dewan juri dari berbagai latar belakang, mulai dari praktisi musik, kreator visual, akademisi, profesional hukum, ekonom hingga perwakilan penonton dari berbagai kelompok usia.

Keragaman perspektif tersebut diharapkan menghasilkan proses penilaian yang lebih objektif dan mampu melihat musik video dari berbagai sudut pandang.

“Kami ingin karya-karya terbaik Indonesia dapat disiapkan sesuai karakter dan persyaratan festival internasional, sehingga memiliki kesempatan bersaing di level global,” ujar Oleg.

Peluncuran Indonesian Music Video Awards (IMVA) 2026–2027 menjadi momentum untuk membangun ekosistem musik video Indonesia yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

IMVA tidak ingin sekadar menjadi ajang perebutan piala. Lebih dari itu, penghargaan tersebut diarahkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan talenta, kolaborasi lintas profesi, inovasi teknologi serta perluasan pasar kreatif Indonesia.

Informasi mengenai program, pendaftaran dan ketentuan Indonesian Music Video Awards (IMVA) dapat diakses melalui situs resmi indonesianmusicvideoawards.com.

Laporan : Ria Satria

Tags: