REAKSIMEDIA.COM | Jakarta – Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan pemerintah tidak terburu-buru untuk menyatakan transisi memasuki endemik. Pasalnya proses transisi menuju normalisasi endemi itu artinya bukan berarti kasus COVID-19 tidak ada sama sekali tapi tetap kasus itu akan ada.
“Untuk menghilangkan sebuah penyakit itu membutuhkan waktu yang lebih panjang, tentunya kita harus bersiap untuk terus berdampingan dengan COVID-19,” katanya pada konferensi pers secara virtual di Jakarta, Selasa (15/3).
Saat ini Indonesia masih dalam kondisi pandemi COVID-19, dengan banyaknya tren indikator pengendalian pandemi yang terus menunjukkan ke hal yang positif, Indonesia sudah mulai bersiap-siap membuat langkah menuju ke arah endemi.
Transisi endemi marupakan suatu proses dimana periode dari pandemi menuju ke arah endemi dengan sejumlah indikator, antara lain laju penularan harus kurang dari 1, angka positivity rate harus kurang dari 5%, kemudian tingkat perawatan rumah sakit harus kurang dari 5%, angka fatality rate harus kurang dari 3%, danĀ level PPKM berada pada transmisi lokal level tingkat 1. Kondisi – kondisi ini harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya 6 bulan.
Tentunya indikator maupun waktunya masih terus dibahas oleh pemerintah bersama dengan para ahli untuk menentukan indikator yang terbaik untuk kita betul-betul mencapai ke arah kondisi endemi.
“Yang paling penting pada saat endemi, walaupun kasusnya ada, dia tidak akan mengganggu kehidupan kita seperti saat ini di mana hampir aktivitas – aktivitas kehidupan kita, kehidupan sosial, kehidupan beragama, pariwisata ini tidak terganggu dengan adanya kasus COVID-19,” ucap dr. Nadia.
Saat ini Indonesia sudah dalam proses transisi perubahan pandemi menjadi endemi. Proses transisi itu sejalan dengan kebijakan pelonggaran-pelonggaran yang diputuskan pemerintah.
Pelonggaran tersebut dilakukan dengan menurunkan level PPKM menjadi level 2, menghapuskan antigen dan PCR sebagai syarat melakukan perjalanan domestik menggunakan transportasi laut, darat maupun udara bagi masyarakat yang sudah vaksin hingga dosis ke-2.
Pemerintah juga menurunkan jangka waktu karantina bagi masyarakat yang melakukan perjalanan luar negeri, dari yang sebelumnya karantina 14 hari menjadi 7 hari, kemudian 3 hari, hingga saat ini menjadi 1 hari.
Laporan : Suryadi
Sumber : Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik – drg. Widyawati, MKM
Tags: jakarta
-
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Pimpin Laporan Korps Kenaikan Pangkat 21 Perwira
-
Percepat Realisasi Anggaran dan Penanganan Inflasi, Kemendagri Monev Asistensi Kabupaten Tambrauw dan Sorong
-
Halal Bihalal dan Pelantikan Pengurus PSHT Kabupaten Kendal Periode 2022-2027
-
Kapolres Pekalongan Apresiasi Warga Kesesi yang Antusias Ikut Vaksinasi
-
Kapores Bogor Jalin Silahturahmi Bersama Perwakilan Wartawan Pokja Polres Bogor
-
Puas Pelayanan Posyandu, Masyarakat Desa Jonggol Jae Ucapkan Terima Kasih
-
Bersama Wabup Siak, Baznas Kembali Salurkan Dana Zakat di Kec. Dayun
-
Pangdam I/BB Bersama Kapoldasu Pimpin Patroli PAM Malam Natal 2022 di Kota Medan
-
Pimpin Apel Pagi, Kapolres Pinrang Berikan Arahan Anggota Menjaga Etika Dan Prilaku Saat Bertugas
-
Pengamanan Situasi Lebaran, Babinsa Koramil 428-02/Ipuh dan Bhabinkamtibmas Polsek Ipuh Gelar Patroli Gabungan


