REAKSIMEDIA.COM | Brebes – BBPOM di Semarang bersama dengan Anggota Komisi IX DPR RI Dr. Dewi Aryani, M.Si menyelenggarakan Kegiatan Informasi, Komunikasi dan Edukasi (KIE) tentang Keamanan Pangan pada Kamis, 3 Maret 2022 di Desa Songgom Lor, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes.
Kepala BBPOM di Semarang Dra. Sandra M.P Linthin, Apt., M.Kes yang didapuk menjadi narasumber, menjelaskan tentang keamanan pangan dengan bertujuan agar masyarakat menjadi konsumen cerdas dalam membeli produk obat dan makanan.
“Kita upayakan dengan cara sosialisasi-sosialisasi sehingga bisa memberikan pemahaman-pemahaman kepada masyarakat bagaimana bisa menjadi masyarakat atau konsumen yang cerdas, baik dalam mengonsumsi obat-obatan dan makanan, kosmetik, dan suplemen kesehatan,” kata Sandra.
Pengawasan, lanjutnya, juga dilakukan di tempat-tempat dan di sarana yang menjual, memperdagangkan, atau memproduksi obat-obatan, kosmetik, dan jamu.
“Tentunya yang kita awasi bahwa peredaran ini harus tetap dijamin keamanan, mutu dan khasiatnya,” ucapnya.
Dari hasil pengawasan BBPOM Semarang, menurutnya, di wilayah Jawa Tengah masih ditemukan produk yang mengandung bahan kimia berbahaya.
“Kemarin, teman-teman kami mendapati produk jamu yang ditambahkan BKO, misalnya di Kecamatan Bumiayu. Tapi kami melakukan pembinaan, jadi produknya dimusnahkan kurang lebih ada 1700 pcs, botolan maupun yang bentuk dus,” ungkapnya.
Kemudian, imbuhnya, kemarin di Kabupaten Brebes, salah satu toko online kosmetik juga sudah dilakukan penindakan.
“Sementara disegel produknya, besok mungkin kami akan gelar kasus dikantor. Apakah produk ini sudah memiliki dua alat bukti. Minimal dua alat bukti untuk kami ajukan ke ranah hukum,” jelasnya.
Kalau obat-obatan, Sandra mengaku, untuk sementara obat belum didapatkan yang di Brebes. Namun, secara umum di Jawa Tengah sudah banyak.
“Misalnya yang ditangkap Polisi sudah banyak, dan biasanya kami dijadikan saksi ahli ketika Polisi menangkap produk-produk, atau obat-obat yang disebut obat keras. Artinya obat-obat yang disalahgunakan, karena efeknya seperti narkoba,” pungkasnya.

Sementara itu, Dewi Aryani meminta kepada pihak yang berwenang untuk memantau toko-toko obat dan apotik secara berkala. Karena, pihaknya mengaku sering mendapat laporan.
“Kemasannya sama, isinya sama tapi ternyata palsu. Nah ini yang perlu dihindari, karena Brebes ini menjadi kabupaten lintasan antar provinsi, jadi rawan,” tuturnya.
Dewi Aryani memastikan, yang dari arah Jawa Barat, maupun dari arah DKI (Jakarta) itu melewati jalur Brebes. Baik wilayah pantura maupun wilayah selatan.
“Maka, Brebes harus meningkatkan kewaspadaan, keamanan, ketertiban dan melibatkan semua pihak,” pungkasnya. (*)
Laporan : Suryadi
Tags: brebes
-
Apresiasi PSEL TPA Benowo, Presiden Minta Kota Lain Tiru Surabaya
-
Cegah Penyebaran PMK, Petugas Gabungan Perketat Pos Penyekatan di Wilayah
-
Selesai April 2023, Menteri PUPR: Pusat Riset Pangan di Humbang Hasundutan untuk Ketahanan Pangan dan Buka Lapangan Kerja
-
Pasca Sinabung Erupsi, Berastagi Diguyur Hujan Abu
-
Di Depan Insan Film Fadli Zon “SIAP” Mendukung Perkembangan dan Pelestarian Budaya Indonesia, termasuk Film
-
Polres Muaro Jambi Peduli ! Berikan Motivasi dan Beri Bingkisan Kepada Personel Terdampak Covid 19
-
Kemenko Marves Ajak Rekan Media Kunjungi Lokasi Presidensi KTT G20 Indonesia di Bali
-
Kemendagri dan BNPP Serahkan Bantuan Dana untuk Korban Gempa Cianjur
-
Jaksa Agung RI Ambil Sumpah, Lantik dan Saksikan Serah Terima Pejabat Eselon II di Lingkungan Kejaksaan Agung dan Kajati Secara Virtual
-
Wapres Tiba di Tanah Air Usai Kunjungan Kerja dari Uzbekistan

