IKA UNJ Dorong Pendidikan Perkuat Literasi Digital, Moral, dan Etika di Era AI

REAKSIMEDIA.COM | Jakarta – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Karena itu, literasi digital dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter, moral, etika, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Hal tersebut mengemuka dalam Forum Diskusi Pedagogik (FDP) IKA UNJ yang digelar Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ), 16–17 September 2026.

Kepala Sekolah SRT 4 Provinsi DKI Jakarta, Ratu Mulyanengsih, M.Pd., mengatakan peserta didik perlu dipersiapkan menghadapi perkembangan teknologi secara kritis, cakap, dan bertanggung jawab.

Dalam materi “Dari Literasi Digital Menuju Ketangguhan Moral: Kurikulum Preventif dan Pendidik sebagai Kompas Etis di Era Digital”, Ratu menegaskan pendidikan tidak semestinya hanya menjauhkan siswa dari teknologi atau berorientasi pada hasil ujian.

Menurutnya, dunia digital menghadirkan peluang sekaligus risiko. Karena itu, pendidikan preventif tidak cukup dilakukan melalui larangan penggunaan teknologi. Peserta didik perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kecakapan sosial, keterampilan mengambil keputusan, serta kemampuan menghadapi tekanan dan risiko di ruang digital.

Ketangguhan moral juga harus dibangun bersama literasi digital. Kurikulum perlu berlandaskan kejujuran, tanggung jawab, toleransi, kepedulian, dan rasa hormat.

Ratu menambahkan, karakter dibentuk melalui pembiasaan, keteladanan, pendampingan, dan pengalaman nyata. Penerapannya perlu mencakup kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, hingga kehidupan sehari-hari.

IKA UNJ Dorong Perubahan Kebijakan Pendidikan

Ketua Bidang Pedagogik PP IKA UNJ, Aan Harinurdin, menilai perkembangan teknologi dan AI membutuhkan perubahan arah kebijakan pendidikan.

Dalam FDP #1 bertema “Bagaimana Kurikulum Formal Merespons Bahaya Dunia Digital Secara Preventif: Pendidik sebagai Kompas Moral di Era Digital”, Aan menyebut sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, mulai dari cyberbullying, kekerasan verbal di ruang digital, phishing, judi online, kecanduan gim dan gawai, hingga penggunaan AI yang tidak sesuai etika akademik.

Aan mendorong tiga arah kebijakan pendidikan.

Pertama, integrasi Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) yang menghubungkan penguasaan teknologi, pedagogik, dan materi pembelajaran.

Kedua, penguatan pembelajaran mendalam atau deep learning yang disertai internalisasi nilai keagamaan dan pembentukan karakter.

Ketiga, pembaruan sistem asesmen, sehingga penilaian tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga proses berpikir, pemahaman, dan integritas peserta didik.

Menurut Aan, literasi digital tidak sebatas kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup etika, karakter, keamanan, dan tanggung jawab. Dalam kondisi tersebut, guru memiliki peran penting sebagai kompas moral bagi peserta didik.

AI Dorong Perubahan Sistem Ujian

Baca juga:  Dandim 1710/Mimika Tinjau Ketahanan Pangan Di Lahan Percontohan Petani Binaan

Dekan FMIPA UNJ, Dr. Hadi Nasbey, M.Si., menilai perkembangan AI membuat sekolah perlu mengevaluasi pola pembelajaran dan sistem asesmen.

Menurut Hadi, AI kini mampu mengerjakan soal pilihan ganda hingga esai dengan cepat. Jika pola ujian konvensional terus dipertahankan, siswa berpotensi bergantung pada teknologi dan kehilangan kesempatan mengasah kemampuan berpikir kritis.

Karena itu, ia mendorong asesmen berbasis proses.

“Sistem asesmen pembelajaran di sekolah harus berubah dari soal tertulis biasa menjadi penilaian berbasis proses agar siswa tidak bergantung pada teknologi kecerdasan buatan,” kata Hadi.

Metode yang dapat diterapkan antara lain presentasi lisan, studi kasus, proyek kelompok, dan penulisan refleksi pribadi.

Hadi juga menekankan pentingnya kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi. Internet dan AI dapat menjadi sumber belajar, tetapi tidak menggantikan peran guru dalam membimbing siswa.

Pengawasan juga perlu dilakukan di rumah melalui kolaborasi antara sekolah dan orang tua agar penggunaan gawai dan teknologi menjadi lebih bertanggung jawab.

Etika Digital dan Kesehatan Mental Murid

Kepala MAN 4 Jakarta Selatan, Wido Prayoga, menyoroti pentingnya etika digital dan kesehatan mental murid di tengah perkembangan teknologi.

Menurut Wido, sekolah tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus mengarahkan penggunaan teknologi sekaligus menjaga perilaku dan kondisi mental murid.

“Ada dua kata kunci yaitu etika digital dan kesehatan mental murid yang tentunya merupakan isu yang sangat strategis di dunia pendidikan saat ini di tengah era digital,” ujar Wido.

Wido menyebut teknologi memiliki manfaat besar dalam pembelajaran, tetapi juga membawa tantangan terhadap perilaku dan moral murid. Karena itu, sekolah perlu membangun aturan, kebiasaan, serta kesadaran agar murid mampu menggunakan teknologi secara bijak.

Pendidikan etika digital juga perlu menjangkau kehidupan sehari-hari, termasuk penggunaan perangkat dan interaksi di media sosial.

Kolaborasi Jadi Kunci

Rangkaian FDP IKA UNJ menekankan bahwa transformasi digital pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi.

Literasi digital perlu berjalan bersama penguatan karakter, moral, etika, keterampilan, asesmen berbasis proses, serta pendampingan penggunaan AI.

Kolaborasi sekolah, keluarga, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat juga diperlukan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung perkembangan peserta didik.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan siswa yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kemandirian, kepedulian, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, dan kesiapan menghadapi perubahan teknologi.

Tags: