REAKSIMEDIA.COM | Ternate – Kedatangan Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi dalam Rapat Koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara di Kota Ternate, Maluku Utara, 15/7/2025, membawa berkah bagi pemerintah kabupaten dan kota di provinsi kepulauan itu. Tujuh daerah yakni Kabupaten Pulau Morotai, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, Halmahera Utara serta Kota Tidore Kepulauan mendapat bantuan dari pemerintah sebesar Rp35 Miliar.
Dari bantuan itu rinciannya adalah, Pulau Morotai sebesar Rp8,647.020.000, Halmahera Timur Rp2,594.000.000, Halmahera Selatan Rp4.587.020.000, Halmahera Tengah Rp 11. 829.005.000, Halmahera Utara Rp 4.911.020.000, Kepulauan Sula Rp 1,297.020.000, dan Kota Tidore Kepulauan sebesar Rp 1.457.020.000.

Kepada wartawan, Viva Yoga mengatakan dana yang dikucurkan tersebut merupakan amanat Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan agar pembangunan lewat program transmigrasi dapat menjaga integrasi nasional, mengentaskan kemiskinan, dan berkontribusi mewujudkan kedaulatan pangan. “Bantuan yang diberikan kita harap dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan potensi unggulan daerah”, ujarnya.
Dirinya menegaskan agar program transmigrasi diakselerasi pemerintah daerah guna mencipatkan kawasan perekonomian di daerah masing-masing. “Kementerian Transmigrasi menetapkan kawasan yang ada tak berfokus pada sentra tanaman pangan namun juga komoditas lain yang juga dapat meningkatkan perekonomian”, ujarnya. Komoditas lain itu seperti pala, cengkeh, kakao, kelapa, dan rempah-rempah. “Ini merupakan produk ungulan yang sangat luar biasa dan bertaraf internasional”, tuturnya.
Komoditas tersebut berpotensi diekspor dari Maluku Utara. Untuk menunjang potensi ekspor maka perlu dibentuk lembaga ekonomi dan bisnis yang mengelola semua proses, dari hulu ke hilir. Wilayah Oba, Weda, dan Wasile perlu didorong menjadi zona industri transmigrasi terintegrasi berbasis agro-maritim.

Diingatkan bahwa Maluku Utara pada Abad XV dan XVI merupakan pusat perdagangan rempah-rempah dunia. Bangsa-bangsa Eropa datang dan berebut untuk menguasai Ternate dan Tidore agar dapat memonopoli rempah-rempah. “Bukti dari massifnya kedatangan bangsa-bangsa di Eropa ke Maluku Utara adalah banyaknya peninggalan benteng-benteng pertahanan mereka”, ungkap Viva Yoga. “Dulu merupakan jalur rempah dunia yang hari ini bersalin rupa menjadi koridor ekonomi biru, hijau, dan industri”, tambahnya. Koridor ini disebut sangat tepat karena dari segi geografi, budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat sangat mendukung.
Sebagai provinsi yang berbatasan dengan Filipina dan Samudera Pasifik, Maluku Utara bukan wilayah biasa. Provinsi ini mampu menjadi simpul strategis kawasan Indonesia bagian timur. Untuk mencapai hal yang demikian maka perlu strategi untuk membuka wilayah terluar menjadi kawasan bernilai tambah serta menyeimbangkan pusat dan pinggiran. “Maluku Utara merupakan episentrum baru ekonomi di timur”, tegasnya,
Tags: ternate
-
Menko Marves Sampaikan Green Leadership Dorong Zero Emition Dan Signifikan Dalam Mewujudkan Indonesia Emas
-
Kapolres Enrekang beberkan Kronologis Pengungkapan Kasus Penyalahgunaan Narkoba
-
Polri Kembali Ungkap Kasus TPPO, 511 Tersangka Telah diamankan
-
BAIN HAM RI Jawa Barat Menyoroti PPDB kota Bogor yang penuh kegaduhan.
-
Ketua Bhayangkari Cabang Pekalongan Bagikan Sembako dan Ratusan Nasi Kotak Siap Saji untuk Korban Banjir
-
Buka Rakernas Forsesdasi, Sekjen Kemendagri Ingatkan Aparatur mengenai Tugas Pelayanan
-
Bhabinkamtibmas Polsek Cibinong Polres Bogor Sambang untuk menyampaikan pesan Kamtibmas
-
Forum Lintas Jurnalis Pantura (FLJP) Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Ketua Umum Lembaga Aliansi Indonesia (LAI)
-
Ketua Umum Dharma Pertiwi Pimpin Serah Terima Jabatan Ketua Harian
-
Hari Terakhir Ramadan, Bupati Tapanuli Selatan Salurkan Zakat Mal Kepada Tiga Masjid Yang Ada di Sipirok




