Terima Pengusaha dan Petani Karet, Wamen Viva Yoga Dorong Pembaruan Data dan Tata Kelola Perkaretan Nasional

REAKSIMEDIA.COM | Jakarta – Kehadiran para petani dan pengusaha karet di Gedung Makarti, kantor Kementerian Transmigrasi (Kementrans), Kalibata, Jakarta, 2/9/2026, disambut dengan terbuka oleh Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi.

Delegasi petani dan pengusaha karet yang hadir sore itu di antaranya adalah Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Irfan Ahmad Fauzi, Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane, Asisten Direktur Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Uhendi Haris, dan peneliti karet Didiek Hadjar Goenadi.

Kepada Viva Yoga, satu persatu mereka menyampaikan aspirasi dan permasalahan yang dihadapi para petani dan pengusaha karet. Diungkapkan selama ini perhatian pemerintah kepada proses produksi komoditas getah dirasa kurang sehingga hasil panen secara nasional turun. Dampak yang terjadi bila pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Indonesia sebagai negara produsen karet nomer satu di dunia, di tahun ini menjadi peringkat ketiga, “kalah dengan Thailand dan Pantai Gading”, ujar Aziz Pane.

Disebut oleh Aziz Pane, karet adalah masa depan. Semua tentang kehidupan dikatakan tidak bisa terlepas dari getah pohon ini. Karet alami merupakan komoditas yang dibutuhkan dalam dunia otomotif. Ban yang dibuat dari karet alami, bukan sintesis, diakui memiliki daya cengkram yang lebih bagus.

Karet selama ini dianggap hanya sebagai pemasok industri besar, ban, padahal getah pohon ini bisa dikonversi menjadi biodiesel. Daun yang ada, perkebunan karet, juga mampu menjadi pasar karbon.

Semua potensi yang ada disebut menjadi tidak maksimal karena perhatian dari pemerintah, seperti tak adanya ‘replanting’, membuat harga karet turun. “Dampaknya petani karet beralih ke tanaman industri lainnya”, tuturnya.

Mereka menyampaikan aspirasi kepada Viva Yoga agar masalah yang ada perlu dituntaskan. Tercatat saat ini luas perkebunan karet mencapai 3,1 juta Ha, produksi nasional 2,1 juta ton dengan produktifitas 941 kg/Ha/tahun, dan jumlah petani antara 1.57 hingga 2,3 juta kepala keluarga.

Menanggapi yang demikian, Viva Yoga mengatakan, komoditas karet juga menjadi perhatian Kementrans. Hal demikian dilakukan karena banyak transmigran yang menjadikan karet sebagai mata pencaharian di kawasan-kawasan transmigrasi. “Di kawasan transmigrasi ada beragam komoditas unggulan seperti sawit, padi, kopi, kakao, coklat, dan karet”, ujarnya. “Ada 19 kawasan transmigrasi yang berfokus pada produksi karet”, ujarnya. Kawasan transmigrasi yang transmigrannya menanam pohon karet di lahannya berada di Sumatera dan Kalimantan.

Baca juga:  Kasal: Jadilah Staf yang Membuat Komandan Yakin dan Jadilah Komandan yang Membuat Anak Buah Yakin

Mantan anggota Komisi IV DPR itu mengungkapkan beberapa waktu yang lalu dirinya berkunjung ke Kawasan Transmigrasi Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Di sana tak hanya sekadar menghadiri rembug petani karet namun juga meninjau langsung perkebunan karet para transmigran.

Dalam kesempatan itu, Viva Yoga mendorong adanya ‘replanting’ sehingga produksi bisa meningkat. Peremajaan tanaman dikatakan penting sebab usia pohon yang ada sudah terbilang tua.

Viva Yoga menegaskan dirinya siap untuk menuntaskan masalah perkaretan nasional. “Perlu langkah-langkah prioritas dalam mengurai masalah”, tuturnya. Beberapa langkah yang perlu ditempuh adalah, revitalisasi dari hulu. Pendataan jumlah petani karet yang ada di Indonesia. Kemudian, mendata umur petani dan pohon karet untuk regenerasi petani dan ‘replanting’. “Dan yang penting adalah perlunya badan khusus yang mengurus karet secara nasional”, paparnya.

Pembaruan data dan tata kelola perkaretan nasional disebut penting karena dari data jumlah petani dan lahan yang terkonsolidasi bisa digunakan untuk mengajukan berbagai program dan bantuan dari pemerintah. “Bila datanya jelas, pasti pemerintah akan membantu berbagai program petani karet”, ucap Viva Yoga.

Untuk melakukan pembaruan data dan tata kelola karet, Viva Yoga mendorong Apkarindo yang tersebar di berbagai provinsi untuk aktif ke dalam maupun keluar. “Apkarindo juga perlu melakukan ‘replanting’ kepengurusan”, harap pria mantan Presidium MN KAHMI itu.

Diakui bahwa pohon karet memiliki beragam kegunaan, tidak hanya sekadar untuk industri ban namun juga bisa dikonversi ke berbagai komoditas dan perkebunannya bisa menjadi pasar karbon. Banyak manfaat inilah menurut Viva Yoga kurang disosialisasikan. Untuk itu Apkarindo didorong melakukan sosialisasi ragam manfaat pohon karet sehingga masyarakat antusias berkebun karet.

Kementrans dalam membangun kawasan transmigrasi, termasuk kawasan unggulan karet, tidak bisa sendiri. “Kita akan bersinergi dengan kementerian lain untuk meningkatkan produktifitas karet di kawasan transmigrasi”, tegasnya.

Tags: