Menpora Kasih Surprise buat Pemuda, Siapkan Generasi Muda Menuju Satu Abad Sumpah Pemuda 2028, Gemura apresiasi

REAKSIMEDIA.COM | Jakarta – Gerakan Muda Untuk Rakyat (GEMURA) mengapresiasi langkah Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir, dalam memperkuat pembangunan kepemudaan melalui serangkaian agenda menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028. Mulai dari Wirasena Youth Camp, Indonesia Youth Summit 2026, hingga kesepahaman bersama antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), berbagai inisiatif tersebut dinilai membuka ruang bagi penguatan karakter, kepemimpinan, dan kesiapan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.

Koordinator Presidium DPP GEMURA, Rajih Musa’ad, menilai langkah tersebut sebagai upaya yang patut diapresiasi karena pembangunan pemuda tidak cukup dilakukan melalui seremoni peringatan tahunan. Menurutnya, generasi muda membutuhkan ruang aktualisasi, kesempatan berkolaborasi, serta kebijakan yang mampu menghubungkan potensi mereka dengan kebutuhan pembangunan nasional.

“Menurut saya, Menpora Erick Thohir memberikan semacam surprise bagi anak muda Indonesia. Menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, kita melihat adanya upaya menghadirkan ruang bagi pemuda untuk berkembang, menyampaikan gagasan, dan mengambil peran dalam pembangunan. Ini penting karena anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus memiliki kesempatan untuk ikut menentukan masa depan bangsa,” ujar Rajih.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian GEMURA adalah Wirasena Youth Camp 2026, sebuah program pengembangan karakter dan kepemimpinan pemuda yang mendorong peserta dari berbagai daerah untuk mengembangkan gagasan di bidang kewirausahaan, dampak sosial dan keberlanjutan, serta digital dan kreativitas. Program ini dinilai relevan untuk membangun generasi muda yang tidak hanya memiliki wawasan kebangsaan, tetapi juga kemampuan merancang solusi atas persoalan di lingkungan sekitarnya.

Rangkaian tersebut dilanjutkan melalui Indonesia Youth Summit 2026 pada 29–30 Oktober di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Forum ini membuka ruang pertemuan dan pertukaran gagasan antara pemuda, praktisi, akademisi, serta pemangku kebijakan mengenai berbagai tantangan pembangunan. Bagi GEMURA, forum semacam ini memiliki arti penting apabila mampu menjembatani aspirasi generasi muda dengan proses perumusan kebijakan dan menghasilkan tindak lanjut yang nyata.

“Anak muda Indonesia tidak kekurangan gagasan. Tantangannya adalah bagaimana gagasan itu memperoleh ruang, pendampingan, dan kesempatan untuk diwujudkan. Karena itu, forum kepemudaan jangan berhenti pada diskusi atau pertemuan, tetapi harus menjadi jembatan menuju kolaborasi dan perubahan yang bisa dirasakan masyarakat,” kata Rajih.

Selain pengembangan karakter dan kepemimpinan, GEMURA juga menyoroti kesepahaman bersama Kemenpora dan Kemnaker tentang sinergi program pembangunan bidang ketenagakerjaan, kepemudaan, dan keolahragaan. Kolaborasi lintas kementerian tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan generasi muda yang memerlukan akses terhadap peningkatan keterampilan, kesempatan kerja, kewirausahaan, dan pengembangan profesi di sektor olahraga.

Baca juga:  Mendesa PDTT: Penanganan Covid-19 di Desa Lebih Sederhana dan Efektif

Rajih menegaskan bahwa kesepahaman tersebut perlu ditindaklanjuti melalui program yang terukur dan dapat diakses pemuda di berbagai daerah. Menurutnya, pembinaan kepemudaan akan semakin bermakna apabila terhubung dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri, sehingga pemuda tidak hanya memperoleh pelatihan, tetapi juga memiliki peluang untuk mengembangkan kompetensi dan meningkatkan kemandirian ekonomi.

“Sinergi Kemenpora dan Kemnaker harus kita dorong agar tidak berhenti di atas kertas. Kami berharap ada program konkret yang menghubungkan pemuda dengan pelatihan yang sesuai kebutuhan industri, akses informasi kerja, serta pendampingan kewirausahaan. Organisasi kepemudaan juga perlu diberi ruang untuk berkolaborasi agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak anak muda, termasuk di daerah,” tegasnya.

GEMURA memandang bahwa berbagai agenda tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda menuju satu abad Sumpah Pemuda pada 2028. Namun, keberhasilan pembangunan kepemudaan tetap perlu diukur melalui keberlanjutan program, keterlibatan pemuda, dan hasil yang dapat dirasakan secara langsung, mulai dari peningkatan kompetensi hingga terbukanya kesempatan ekonomi dan lahirnya inisiatif sosial yang berdampak.

“Kami mengapresiasi langkah Menpora Erick Thohir dalam menghadirkan ruang pengembangan bagi pemuda. Tetapi apresiasi juga harus disertai pengawalan agar program-program tersebut benar-benar berkelanjutan. Menuju 2028, kita tidak cukup hanya merayakan seratus tahun Sumpah Pemuda. Kita harus memastikan lahir generasi yang berkarakter, kompeten, mandiri, dan berani mengambil tanggung jawab bagi masa depan bangsa,” tutup Rajih.

Bagi GEMURA, semangat Sumpah Pemuda harus terus diterjemahkan ke dalam karya, persatuan, dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat. Momentum menuju satu abad Sumpah Pemuda bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan kesempatan untuk memastikan bahwa generasi muda memiliki ruang, kemampuan, dan kesempatan yang lebih luas untuk menjadi bagian dari solusi atas tantangan Indonesia.

Tags: