REAKSIMEDIA.COM | Kalimantan Timur – Perlu ada akselerasi kualitas pendidikan Perguruan Tinggi di Kaltim melalui kebijakan luar biasa dari pimpinan daerah dan perguruan tinggi yang memang berisiko.
Demikian disampaikan oleh Ketua DPD IKA Lemhannas Kalimantan Timur Prof. Dr. Dwi Nugroho Hidayanto, M.Pd dalam perbincangan di kampus Universitas Mulawarman, Jl. Banggeris, Samarinda, Sabtu ( 15/10/2022)
” Akselerasi Pendidikan Indonesia Untuk Indonesia Maju Tahun 2045, dalam konsteks Kaltim pernah saya sampaikan ketika menjadi narasumber Focus group discussion Nasional Yang diadakan Lemhanas, Saya melihat kalau ingin maju jangan berbicara hal biasa tapi Luar biasa sehingga kebijakanpun menjadi Luar biasa. Kalu kita bicara Biasa yang muncul GIGO (Garbage In Garbage Out), Masuk sampah keluar sampah. Kan tidak boleh begitu. Minimal Garbage In Gold Out, Masuk sampah keluar Emas, dimana fokusnya di Prosesnya. Kalau Kita bicara ada 3 komponen penting : input Prosses Output. Inputnya Sama Warga Kaltim dengan Daerah. Kita bahan bakunya bagus tapi Prosesnya Kurang bagus. Maka perlu adanya kebijakan luarbiasa. Perlu ada Sososk Pemimpin yang kebijakannya luarbiasa, jauh kedepan, tentu ada Resiko, Termasuk kalau bicara Pendidikan” tegas Guru Besar Bidang Pendidikan Universitas Mulawarman ini.
Dia menambahkan bahwa keterkaitan Ibu Kota Nusantara, mengenai Pendidikan, tidak ada di dunia manapun yang negara itu maju tanpa didukung SDM yang baik, tentu didukung pendidikan yang bagus, tentu didukung oleh kebijakan yang bagus. Tentu adanya komitmen terhadap dunia pendidikan, kepada Guru dan pasilitas, Seperti Guru di setarakan sebagai pekerja Profesonal dengan adanya sertifikasi guru.
“Karena Kita telah menjadi kawasan Ibu Kota Negara maka pemimpin daerah yaitu Gubernur bersama dengn Bupati/Walikota harus kolaborasi Untuk akselerasi pendidikan di Kaltim, tentu juga Melibatkan Perguruan Tinggi. Universitas Mulawarman sebagai Leading Sector diperguruan tinggi di Kaltim tentu sebagai penghela (penarik) perguruan tinggi lain, Unmul itu sudah 60 tahun.
“Pertama, Lahirnya perguruan tinggi seharusnya Bisa membantu masalah di Nasional dan Daerah menjadi Agen Perubahan yang memberikan solusi Bukan sekedar Menara Gading (Gagah-Gagahan/ simbol Keangkuhan tapi tidak berbuat)
Kedua, Perguruan Tinggi Dimanfaatkan melegitimasi oleh Pihak-pihak yang mempunyai tujuan tertentu sebagai Menara air/ diputar seenaknya Keran sesuai kebutuhan.
Ketiga, Perguruan tinggi seharusnya sebagai Menara Api memberikan pencerahan, memberikan jalan, itu di pendidikan kembali Kepada Pimpinan,” tutupnya mengakhiri.
Laporan : Ence
Tags: Kalimantan timur
-
Presiden Jokowi Kembali Tekankan Netralitas Aparat pada Pemilu 2024
-
Mercedes-Benz W204 Club INA AkanTouring Menjelajah Sumatera Sekaligus Menghadiri Jambore Nasional
-
Kapuspen TNI : Video Di Medsos Dukungan TNI Untuk Anies Adalah Hoax
-
Polsek Parangloe Berikan Bantuan Sosial untuk Warga Terdampak Covid-19
-
Panglima TNI : Perkuat SDM dan Operasi Gabungan, POM Harus Siap Hadapi Tantangan
-
62 Seskoad Gelar Diskusi di Gedung DPRD Kabupaten Ciamis
-
Setelah Dilantik Ketua PWI Kabupaten Bogor, Dedi Firdaus Langsung Menggelar Rapat Kerja Pedana
-
Orientasi CPNS Formasi 2021, Menteri Basuki: Tidak Hanya Kompeten, Tetapi Harus Berintegritas
-
Yonif Raider 300/Bjw Peringati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H/2022 M
-
Sigap, Polsek Pondok Suguh dan Polsek Teramang Jaya Bantu BKSDA Evakuasi Buaya Ganas di Perkebunan Warga


